Penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat
Diantara penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat terhadap keberadaan mereka, tahun-tahun terakhir di Indonesia tumbuh cukup banyak komunitas independen yang suportif dengan pengembangan potensi dan citra para penyandang disabilitas. Seperti jembatan, komunitas itu hadir menghubungkan para penyandang disabilitas dan masyarakat yang bukan penyandang disabilitas. Selain memperjuangkan kesetaraan hak hidup bagi penyandang disabilitas, mereka juga ramai-ramai unjuk potensi dan tak berhenti meng-edukasi lingkungan demi menggerus pandangan minor masyarakat terhadap keberadaan penyandang difabilitas. Semua mereka lakukan karena sampai hari ini masih ada saja segelintir orang dalam masyarakat kita yang memandang sebelah mata pada penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat itu pada kenyataannya keliru.
Disabilitas dan pandangan masyarakat terhadap Putu Restiti
Satu cerita menarik tentang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang kurang suportif pernah dialami Putu Restiti (20 tahun). Terlahir dengan kelainan pertumbuhan tulang membuat tungkai-tungkai kaki dan tangan Restiti tidak tumbuh seperti kebanyakan remaja putri seusianya, ditambah keterbatasan ekonomi keluarga dan kurangnya informasi baik dalam keluarga maupun masyarakat sekitar tempat tinggal Restiti, membuat ia harus melewati masa pertumbuhan selama sembilan belas tahun dengan hanya tinggal didalam rumah. Restiti baru mulai belajar diluar rumah sejak November 2010, ketika YAKKUM Bali mengunjungi Restiti didesanya Songan, kecamatan Kintamani, Bali.
Dikunjungan YAKKUM kala itu, Restiti yang tak pernah keluar rumah menunjukkan kemampuan menjahit yang diturunkan kepadanya dari sang Ibu. Bedanya, sementara sang Ibu menjahit baju-baju seukuran tubuh orang dewasa Restiti hanya mampu menjahit baju-baju disebatas ukuran boneka. Tidak pernah keluar rumah apalagi mengenyam pendidikan desain, Restiti kala itu menunjukan potensinya sebagai seorang penyandang difabilitas yang tak mau menyerah pada keadaan. Petugas YAKKUM Bali yang mengunjungi Restiti hari itu sepakat jika Restiti memiliki potensi yang tak dimiliki setiap remaja putri seusianya. Bekerjasama dengan komunitas kreatif Bali Restiti segera di ikutsertakan untuk masuk menjadi bagian kelas-kelas pelatihan. Pelatihan kali pertama yang diikuti Restiti adalah kelas kewirausahaan bagi penyandang disabilitas. Restiti merasa beruntung bisa berada dalam kelas kewirausahaan yang diampu langsung oleh Ayip Bali, bapak ketua umum asosiasi desain grafis Indonesia juga desainer desainer berbakat lainnya.
Prestasi Putu Restiti sebagai seorang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang berubah

Sejak diikutsertakan kedalam kelas-kelas pelatihan tersebut Restiti makin bersemangat dan tak berhenti berkreatifitas. 4 Desember 2010 merupakan hari bersejarah bagi Restiti. Melalui sesi presentasi malam Pecha Kucha #7 – Young Blood digelaran Bali Creative Festival, Restiti menjadi satu satunya presenter termuda mewakili penyandang disabilitas yang berkesempatan mempresentasikan hasil kerja kreatifnya. Presentasinya yang diberi judul Kebaya Bali untuk boneka Barbie menarik perhatian. Selain dinilai sebagai penggagas kemunculan Kebaya Bali pertama untuk boneka Barbie, Restiti juga mengandalkan hasil buangan industri fashion dalam menghasilkan karya karyanya tersebut.

Aktifitas kreatif Restiti tak berhenti sampai disitu, sementara terus aktif keluar masuk kelas-kelas pelatihan dan memasarkan hasil kerja kreatifnya, sebuah hajatan kembali diikutinya. Awal Juni 2011, Restiti ambil bagian dengan menjadi peserta pameran WONDERGROUND – Responsible Lifestyle Prototype Product, Artworks & Exhibition. Pameran yang dibuka oleh David Berman tersebut merupakan bagian acara puncak dari roadshow Do Good Indonesia, sebuah gelaran kreatif yang diselenggarakan ditiga kota besar di Indonesia. Lagi-lagi Restiti menjadi satu satunya peserta pameran termuda yang mewakili penyandang disabilitas. Dalam kesempatan itu David Berman – penulis buku Do Good berpendapat jika Restiti behasil melakukan sebuah proses desain kreatif yang berkelanjutan.
Hari ini, setahun berselang sudah sejak Pecha Kucha #7. Dua belas bulan yang terasakan panjang dan begitu menyenangkan. Baik Restiti dan relawan yang terlibat mendampingi, sama-sama pernah merasakan momen jatuh bangun yang mengesankan. Hari ini Restiti tengah asik menginisiasi sebuah gerakan kecil bertajuk Difable on Journey, Creative with waste bersama beberapa penyandang disabilitas lain di Bali, dalam project tersebut Restiti melakukan proses upcycling terhadap sisa buangan industri fashion. Tak hanya menghasilkan baju-baju boneka, Restiti mulai menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat banyak. Tak kurang dari pakaian daur ulang, tas dan aksesoris, cushion sampai kelengkapan rumah tangga dari memanfaatkan sampah buangan industri fashion telah dihasilkan oleh Restiti. Sekali lagi ini membuktikan jika Restiti yang oleh masyarakat di labeli ‘penyandang disabilitas’ bisa berkreatifitas selayaknya mereka yang tidak menyandang disabilitas, bahkan mungkin jauh lebih baik. Jika tak ada aral melintang, hasil proses upcycling & ide gerakan ini akan dipresentasikannya kehadapan publik sekali lagi mewakili penyandang disabilitas di Pecha Kucha Night #8 Bali Creative Festival 2011 akhir bulan ini.
Penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat hari ini
Sampai dengan akhir tahun 2010, penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat di Bali masih jauh dari suportif. Masyarakat setempat masih bertahan menganggap jika orang yang hidup dengan disabilitas tidak memiliki potensi dan kemandirian diri yang mumpuni yang kehadirannya hanya menjadi beban keluarga dan masyarakat. Dipandang sebelah mata, banyak perusahaan di Bali akhirnya ikut menolak mempekerjakan mereka. Buntutnya mengenaskan, ruang gerak penyandang disabilitas semakin mengecil, kreatifitas mereka dimandulkan oleh pandangan masyarakat yang keliru. Sungguh sebuah pandangan yang harus diluruskan.
Cerita Restiti hanyalah salah satu contoh kecil yang bisa dihadirkan tentang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang keliru. Dalam beberapa hal, seorang penyandang disabilitas memang membutuhkan bantuan orang kedua untuk menjalani hari-harinya, tapi itu bukan berarti mereka tidak memiliki potensi dan semangat juang untuk bisa berkembang seperti halnya kita yang terlahir tanpa label diabilitas. Contoh menarik lain yang bisa dihadirkan adalah Kartunet[dot]com. Siapa yang mengira jika portal informasi online bertag lines “Mengatasi keterbatasan tanpa batas” ini ternyata digagas oleh sekelompok tuna netra? satu lagi bukti otentik, jika tuna netra tak harus berakhir di panti pijat. Indonesia juga punya Aikon[dot]org, komunitas yang bersemangatkan Do Good itu merupakan salah satu komunitas desainer Indonesia yang begitu suportif terhadap kesetaraan hak para penyandang disabilitas.
Kabar baik untuk penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang berubah
Tahun ini merupakan tahun yang baik bagi para penyandang disabilitas di Indonesia. 11 Oktober 2011 lalu, Indonesia akhirnya resmi menjadi negara ke 107 yang meratifikasi Konvensi Hak Hak Penyandang Disabilitas menjadi undang undang. Undang-undang yang mengatur tentang perlindungan & kesetaraan hak hidup para penyandang disabilitas. Bukan untuk memberikan mereka tempat spesial, tapi lebih untuk menarik mereka keluar dari zona yang terpinggirkan dalam masyarakat dan bisa menikmati kesetaraan hak dan kewajiban mereka sebagai seorang manusia berdaya cipta dalam segala aspek kehidupan. Sudah saatnya kita bergerak untuk Kesetaraan Hak Penyandangan disabilitas dan Pandangan masyarakat yg miring harus kita rubah.
Saya pribadi berpendapat jika label “penyandang disabilitas’ yang merupakan terminologi baru dari ‘difabel’ (different abbility) masih tetap kurang nyaman didengar & diterima rasa. Karena siapapun jika saja bisa, mereka pasti tidak akan memilih untuk lahir dengan menyandang disabilitas (ketidak-bisaan). Disabilitas bukan gelar kebangsawanan yang membanggakan untuk disandang. Menjadi disable saat ingin melakukan sesuatu bukan keinginan siapapun. Namun jika merujuk pada definisi WHO tentang disabilitas, sepertinya saya harus bertahan dengan ketidak nyamanan saya dengan terminologi baru tersebut. Berikut definisi disability saya adopsi dari WHO.
A disability may be physical, cognitive, mental, sensory, emotional, developmental or some combination of these.
Disabilities is an umbrella term, covering impairments, activity limitations, and participation restrictions. An impairment is a problem in body function or structure; an activity limitation is a difficulty encountered by an individual in executing a task or action; while aparticipation restriction is a problem experienced by an individual in involvement in life situations. Thus disability is a complex phenomenon, reflecting an interaction between features of a person’s body and features of the society in which he or she lives.—World Health Organization[1]
Anyway, semoga apalah arti sebuah istilah bisa diindahkan disini. Yang jelas, semua sama, yang berbeda itu hanya caranya. Sepertinya sudah waktunya, kita bersiap menutup tahun ini dengan sebuah harapan baik dan jika ada perbedaan itu adalah wajar adanya. Tujuan agar penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat bisa seiring sejalan sudah selayaknya menjadi cita-cita bersama. Sudah waktunya, kita bersama-sama berangkulan, mengedukasi mereka yang belum memahami apa arti dan pentingnya kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas, mengedukasi masyarakat agar bisa memberi perlakuan sewajarnya untuk penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat harus bisa menjadi jauh lebih suportif dan terbuka ditahun-tahun yang akan datang. Selamat berakhir tahun! (@saktisoe)
Comments
Trackbacks
There are no trackbacks on this entry.


kapan ya ke bali ketemu sama restiti.. *pengen*
Terimakasih untuk supportnya Kak Brenda. Ditunggu di Bali kedatangannya
ayo…restiti semangat!
semoga karyanya sukses di pentas-kan di pecha kucha nanti
Yang juga penting adalah pemberdayaan dari sesama penyandang disabilitas, terutama bagi mereka yang sudah melangkah seperti adik kita ini, karena merekalah sebenarnya yang paling memahami kondisi satu sama lain. Semangat ya!
kapan klo ke Bali mampir ahhhh….
Jangan Pandang sebelah mata untuk mereka yang kekurangan…..
bagaimanapun mereka WN yang mempunyai hak yang sama seprti manusia biasa….
Mereka juga punya hak WNI seperti kaya kita semua….
salam kepedulian
tujuan mulia pasti dibalas dengan baik, semoga menang ya
good luck
Mau ikut sharing.
Nama saya Ahmad Fauzi. Saya juga penyandang disabilitas Cerebral Palsy. Alhamdulillah saat ini saya mendapat kesempatan menjalani studi di Universitas Airlangga Surabaya untuk Program Magister Kajian Sastra dan Budaya walaupun memang aksesibilitas untuk penyandang cacat belum ada.
Tapi untuk hal beradaptasi, alhamdulillah saya masih bisa beradaptasi. teman2 saya baik. hanya saja yang agak berat adalah ketika ujian dan harus sit in, tidak ada tambahan waktu bagi saya.
Monggo kalo mau kenal lebih dekat lewat facebook saya Ahmad Fauzi Rahman (fauzi_hawking@yahoo.com)
putu… semangat selamat! !!
tetap berkarya dan semoga ini jd inspirasi untuk saudara2 kita yg difable jg…
inspiring around.
hai, restiti. kamu keren. bisa menghasilkan baju2 keren itu dalam perbedaan (difabilitas) fisikmu. senang bisa melihat dan mengenalmu secara langsung dan melihat karya2 kerenmu itu.
maju terus ya. tak usah mikirin pemerintah dan tetek bengek yg memang tak jelas kerjaannya. buktikan saja dg karyamu.
Terima kasih utk Putu Restiti telah menjadi inspirasi untuk kita semua. Semangat dan keteguhan itu menjadi sangat penting untuk siapapun, agar tak menyerah oleh keadaan. mungkin ini terdengar klise, tapi disadari atau tidak, inilah hal terpenting dalam kehidupan kita. Terima kasih sekali lagi.
Putu Restiti mengajarkan dengan semangat,kemauan dan kerja keras tidak ada hambatan yang dapat menghalangi untuk membuat suatu karya, yang bahkan oleh orang non-disabilitas belum tentu mereka bisa lakukan.
Dan juga untuk rekan-rekan disabilitas yang lain, jangan berhenti untuk berkarya karena kalian lah dunia ini bisa lebih berwarna dan lebih bermakna
Hai Restiti, semangattt… Kami mendukungmu dari doa dan bantuan apapun yg bisa kami bantu…
Putu Keren sekali :’)
benar-benar menginspirasi untuk selalu menjadi orang yang kreatif,
wah salut untuk semangatnya Putu restiti dan semangat Orang-orang yang tak henti-hentinya mendukung putu juga, kalian LUAR BIASA!
tetap semangat!!
halo! Tetap berkarya putu! semangatmu luar biasa.
hai Restiti, salam kenal.
kreasimu keren-keren sekali. jadi tambah penasaran pingin main ke Songan, pingin ketemu dan kenal lebih dekat denganmu.