<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Creative with Waste &#38; Difable on Journey Project</title>
	<atom:link href="http://www.puturestiti.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.puturestiti.com</link>
	<description>Just another WordPress site</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Nov 2011 10:38:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat</title>
		<link>http://www.puturestiti.com/penyandang-disabilitas-dan-pandangan-masyarakat/</link>
		<comments>http://www.puturestiti.com/penyandang-disabilitas-dan-pandangan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 05:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Restiti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pure Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Pure Project]]></category>
		<category><![CDATA[arti disabilitas]]></category>
		<category><![CDATA[disabilitas dan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[disabilitas dan pandangan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat di bali]]></category>
		<category><![CDATA[putu restiti penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat terhadapnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puturestiti.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Disabilitas dan pandangan masyarakat Saat Ini Diantara penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat terhadap keberadaan mereka, tahun-tahun terakhir di Indonesia tumbuh cukup banyak komunitas independen yang suportif dengan pengembangan potensi dan citra para penyandang disabilitas. Seperti jembatan, komunitas itu hadir menghubungkan para penyandang disabilitas dan masyarakat yang bukan penyandang disabilitas. Selain memperjuangkan kesetaraan hak hidup bagi...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: left;" dir="ltr">
<div style="text-align: center;">
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" rel="nofollow" href="http://4.bp.blogspot.com/-JMJdsxakvQ4/TruVaKjlVdI/AAAAAAAAB14/ibdAUyfZSFI/s1600/Putu+Restiti.jpg"></a></div>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 0px initial initial;" src="http://4.bp.blogspot.com/-JMJdsxakvQ4/TruVaKjlVdI/AAAAAAAAB14/ibdAUyfZSFI/s640/Putu+Restiti.jpg" border="0" alt="" width="473" height="354" /></p>
<h1 style="text-align: left;"><span style="font-weight: normal;">Disabilitas dan pandangan masyarakat Saat Ini</span></h1>
</div>
<div style="text-align: left;" dir="ltr">
<div style="text-align: left;" dir="ltr">
<p style="text-align: justify;">Diantara <a title="kartunet" rel="nofollow" href="http://www.kartunet.com/" target="_blank">penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat</a> terhadap keberadaan mereka, tahun-tahun terakhir di Indonesia tumbuh cukup banyak komunitas independen yang suportif dengan pengembangan potensi dan citra para penyandang disabilitas. Seperti jembatan, komunitas itu hadir menghubungkan para penyandang disabilitas dan masyarakat yang bukan penyandang disabilitas. Selain memperjuangkan kesetaraan hak hidup bagi penyandang disabilitas, mereka juga ramai-ramai unjuk potensi dan tak berhenti meng-edukasi lingkungan demi menggerus pandangan minor masyarakat terhadap keberadaan penyandang difabilitas. Semua mereka lakukan karena sampai hari ini masih ada saja segelintir orang dalam masyarakat kita yang memandang sebelah mata pada penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat itu pada kenyataannya keliru.</p>
<h2>Disabilitas dan pandangan masyarakat terhadap Putu Restiti</h2>
<p style="text-align: justify;">Satu cerita menarik tentang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang kurang suportif pernah dialami Putu Restiti (20 tahun). Terlahir dengan kelainan pertumbuhan tulang membuat tungkai-tungkai kaki dan tangan Restiti tidak tumbuh seperti kebanyakan remaja putri seusianya, ditambah keterbatasan ekonomi keluarga dan kurangnya informasi baik dalam keluarga maupun masyarakat sekitar tempat tinggal Restiti, membuat ia harus melewati masa pertumbuhan selama sembilan belas tahun dengan hanya tinggal didalam rumah. Restiti baru mulai belajar diluar rumah sejak November 2010, ketika YAKKUM Bali mengunjungi Restiti didesanya Songan, kecamatan Kintamani, Bali.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikunjungan YAKKUM kala itu, Restiti yang tak pernah keluar rumah menunjukkan kemampuan menjahit yang diturunkan kepadanya dari sang Ibu. Bedanya, sementara sang Ibu menjahit baju-baju seukuran tubuh orang dewasa Restiti hanya mampu menjahit baju-baju disebatas ukuran boneka. Tidak pernah keluar rumah apalagi mengenyam pendidikan desain, Restiti kala itu menunjukan potensinya sebagai seorang penyandang difabilitas yang tak mau menyerah pada keadaan. Petugas YAKKUM Bali yang mengunjungi Restiti hari itu sepakat jika Restiti memiliki potensi yang tak dimiliki setiap remaja putri seusianya. Bekerjasama dengan komunitas kreatif Bali Restiti segera di ikutsertakan untuk masuk menjadi bagian kelas-kelas pelatihan. Pelatihan kali pertama yang diikuti Restiti adalah kelas kewirausahaan bagi penyandang disabilitas. Restiti merasa beruntung bisa berada dalam kelas kewirausahaan yang diampu langsung oleh Ayip Bali, bapak ketua umum asosiasi desain grafis Indonesia juga desainer desainer berbakat lainnya.</p>
<h4>Prestasi Putu Restiti sebagai seorang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang berubah</h4>
<p><img class="alignnone" title="Bali Waste Note Project" src="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/07/Bali-Waste-Not-Project.jpg" alt="" width="473" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak diikutsertakan kedalam kelas-kelas pelatihan tersebut Restiti makin bersemangat dan tak berhenti berkreatifitas. 4 Desember 2010 merupakan hari bersejarah bagi Restiti. Melalui sesi presentasi malam Pecha Kucha #7 &#8211; Young Blood digelaran Bali Creative Festival, Restiti menjadi satu satunya presenter termuda mewakili penyandang disabilitas yang berkesempatan mempresentasikan hasil kerja kreatifnya. Presentasinya yang diberi judul Kebaya Bali untuk boneka Barbie menarik perhatian. Selain dinilai  sebagai penggagas kemunculan Kebaya Bali pertama untuk boneka Barbie, Restiti juga mengandalkan hasil buangan industri fashion dalam menghasilkan karya karyanya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="hasil karya putu restiti" src="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/05/sample.jpg" alt="" width="473" /></p>
<p style="text-align: justify;">Aktifitas kreatif Restiti tak berhenti sampai disitu, sementara terus aktif keluar masuk kelas-kelas pelatihan dan memasarkan hasil kerja kreatifnya, sebuah hajatan kembali diikutinya. Awal Juni 2011, Restiti ambil bagian dengan menjadi peserta pameran <a rel="nofollow" href="http://dgi-indonesia.com/pameran-nafka-wonderground/">WONDERGROUND &#8211; Responsible Lifestyle Prototype Product, Artworks &amp; Exhibition</a>. Pameran yang dibuka oleh David Berman tersebut merupakan bagian acara puncak dari roadshow Do Good Indonesia, sebuah gelaran kreatif yang diselenggarakan ditiga kota besar di Indonesia. Lagi-lagi Restiti menjadi satu satunya peserta pameran termuda yang mewakili penyandang disabilitas. Dalam kesempatan itu David Berman &#8211; penulis buku Do Good berpendapat jika Restiti behasil melakukan sebuah proses desain kreatif yang berkelanjutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, setahun berselang sudah sejak Pecha Kucha #7. Dua belas bulan yang terasakan panjang dan begitu menyenangkan. Baik Restiti dan relawan yang terlibat mendampingi, sama-sama pernah merasakan momen jatuh bangun yang mengesankan. Hari ini Restiti tengah asik menginisiasi sebuah gerakan kecil bertajuk <a rel="nofollow" href="http://www.puturestiti.com/bali-you-throw-we-pick/">Difable on Journey, Creative with waste</a> bersama beberapa penyandang disabilitas lain di Bali, dalam project tersebut Restiti melakukan proses <em>upcycling</em> terhadap sisa buangan industri fashion. Tak hanya menghasilkan baju-baju boneka, Restiti mulai menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat banyak. Tak kurang dari pakaian daur ulang, tas dan aksesoris, cushion sampai kelengkapan rumah tangga dari memanfaatkan sampah buangan industri fashion telah dihasilkan oleh Restiti. Sekali lagi ini membuktikan jika Restiti yang oleh masyarakat di labeli &#8216;penyandang disabilitas&#8217; bisa berkreatifitas selayaknya mereka yang tidak menyandang disabilitas, bahkan mungkin jauh lebih baik. Jika tak ada aral melintang, hasil proses upcycling &amp; ide gerakan ini akan dipresentasikannya kehadapan publik sekali lagi mewakili penyandang disabilitas di Pecha Kucha Night #8 <a rel="nofollow" href="http://www.balicreativefestival.com/">Bali Creative Festival 2011</a> akhir bulan ini.</p>
<h3>Penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat hari ini</h3>
<p style="text-align: justify;">Sampai dengan akhir tahun 2010, penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat di Bali masih jauh dari suportif. Masyarakat setempat masih bertahan menganggap jika orang yang hidup dengan disabilitas tidak memiliki potensi dan kemandirian diri yang mumpuni yang kehadirannya hanya menjadi beban keluarga dan masyarakat. Dipandang sebelah mata, banyak perusahaan di Bali akhirnya ikut menolak mempekerjakan mereka. Buntutnya mengenaskan, ruang gerak penyandang disabilitas semakin mengecil, kreatifitas mereka dimandulkan oleh pandangan masyarakat yang keliru. Sungguh sebuah pandangan yang harus diluruskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita Restiti hanyalah salah satu contoh kecil yang bisa dihadirkan tentang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang keliru. Dalam beberapa hal, seorang penyandang disabilitas memang membutuhkan bantuan orang kedua untuk menjalani hari-harinya, tapi itu bukan berarti mereka tidak memiliki potensi dan semangat juang untuk bisa berkembang seperti halnya kita yang terlahir tanpa label diabilitas. Contoh menarik lain yang bisa dihadirkan adalah Kartunet[dot]com. Siapa yang mengira jika portal informasi online bertag lines &#8220;<a title="kartunet" rel="nofollow" href="http://www.kartunet.com/" target="_blank">Mengatasi keterbatasan tanpa batas</a>&#8221; ini ternyata digagas oleh sekelompok tuna netra? satu lagi bukti otentik, jika tuna netra tak harus berakhir di panti pijat. Indonesia juga punya Aikon[dot]org, komunitas yang bersemangatkan Do Good itu merupakan salah satu komunitas desainer Indonesia yang begitu suportif terhadap kesetaraan hak para penyandang disabilitas.</p>
<h4>Kabar baik untuk  penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang berubah</h4>
<p style="text-align: justify;">Tahun ini merupakan tahun yang baik bagi para penyandang disabilitas di Indonesia. 11 Oktober 2011 lalu, Indonesia akhirnya resmi menjadi negara ke 107 yang meratifikasi Konvensi Hak Hak Penyandang Disabilitas menjadi undang undang. Undang-undang yang mengatur tentang perlindungan &amp; kesetaraan hak hidup para penyandang disabilitas. Bukan untuk memberikan mereka tempat spesial, tapi lebih untuk menarik mereka keluar dari zona yang terpinggirkan dalam masyarakat dan bisa menikmati kesetaraan hak dan kewajiban mereka sebagai seorang manusia berdaya cipta dalam segala aspek kehidupan. Sudah saatnya kita bergerak untuk <a title="kesetaraan hak penyandang disabilitas" rel="nofollow" href="http://www.kartunet.com/" target="_blank">Kesetaraan Hak Penyandangan disabilitas</a> dan Pandangan masyarakat yg miring harus kita rubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pribadi berpendapat jika label &#8220;penyandang disabilitas&#8217; yang merupakan terminologi baru dari &#8216;difabel&#8217; <em>(different abbility)</em> masih tetap kurang nyaman didengar &amp; diterima rasa. Karena siapapun jika saja bisa, mereka pasti tidak akan memilih untuk lahir dengan menyandang disabilitas (ketidak-bisaan). Disabilitas bukan gelar kebangsawanan yang membanggakan untuk disandang. Menjadi <em>disable</em> saat ingin melakukan sesuatu bukan keinginan siapapun. Namun jika merujuk pada definisi WHO tentang disabilitas, sepertinya saya harus bertahan dengan ketidak nyamanan saya dengan terminologi baru tersebut. Berikut definisi <em>disability</em> saya adopsi dari WHO.</p>
<p style="text-align: justify;">A <strong>disability</strong><span style="text-align: left;"> may be physical, cognitive, mental, sensory, emotional, developmental or some combination of these.</span></p>
<blockquote>
<div>Disabilities is an umbrella term, covering impairments, activity limitations, and participation restrictions. An <em>impairment</em> is a problem in body function or structure; an <em>activity limitation</em> is a difficulty encountered by an individual in executing a task or action; while a<em>participation restriction</em> is a problem experienced by an individual in involvement in life situations. Thus disability is a complex phenomenon, reflecting an interaction between features of a person’s body and features of the society in which he or she lives.</div>
<div>—World Health Organization<sup><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Disability#cite_note-0">[1]</a></sup></div>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Anyway, semoga apalah arti sebuah istilah bisa diindahkan disini. Yang jelas, semua sama, yang berbeda itu hanya caranya. Sepertinya sudah waktunya, kita bersiap menutup tahun ini dengan sebuah harapan baik dan jika ada perbedaan itu adalah wajar adanya. Tujuan agar penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat bisa seiring sejalan sudah selayaknya menjadi cita-cita bersama.  Sudah waktunya, kita bersama-sama berangkulan, mengedukasi mereka yang belum memahami apa arti dan pentingnya kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas, mengedukasi masyarakat agar bisa memberi perlakuan sewajarnya untuk penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat harus bisa menjadi jauh lebih suportif  dan terbuka ditahun-tahun yang akan datang. Selamat berakhir tahun! <strong>(@saktisoe)</strong></p>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puturestiti.com/penyandang-disabilitas-dan-pandangan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bali Waste Not</title>
		<link>http://www.puturestiti.com/bali-you-throw-we-pick/</link>
		<comments>http://www.puturestiti.com/bali-you-throw-we-pick/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 14:12:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Restiti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pure Project]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puturestiti.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Putu yang baik, Bulan ini Putu memulai sebuah proyek sederhana yang cukup beresiko. Sederhana karena project ini hanya bermodalkan tekad &#38; nekat. Beresiko karena ini berkaitan dengan sampah Bali Waste Not (Fashion Waste Chapter) - Merupakan sebuah project yang digagas agar kita bisa lebih menghargai sampah buangan industri fashion yang luar biasa marak di...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/07/Bali-Waste-Not-Project.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-125" title="Bali Waste Not Project" src="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/07/Bali-Waste-Not-Project.jpg" alt="" width="504" height="504" /></a></p>
<p>Sahabat Putu yang baik,</p>
<p>Bulan ini Putu memulai sebuah proyek sederhana yang cukup beresiko. Sederhana karena project ini hanya bermodalkan tekad &amp; nekat. Beresiko karena ini berkaitan dengan sampah <img src='http://www.puturestiti.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Bali Waste Not (Fashion Waste Chapter) -</strong> Merupakan sebuah project yang digagas agar kita bisa lebih menghargai sampah buangan industri fashion yang luar biasa marak di Bali. Kita bisa melihat contoh paling sederhana dari pergerakan industri tersebut dikeseharian kita, perhatikan saja Ibu, teman atau saudara perempuan kalian misalnya, ada berapa pasang kebaya cantik yang mereka miliki untuk pergi menghadiri upacara-upacara agama atau acara-acara lainnya. Pernah membayangkan seberapa banyak bahan atau kain sisa yang dihasilkan dari pakaian cantik mereka itu?. Beberapa orang mungkin sudah dengan bijaksana mengolahnya kembali menjadi sesuatu, tapi Putu yakin masih banyak juga yang kebingungan mau diapakan kain-kain tersebut, hingga berakhir dengan membuangnya percuma. Nah disinilah gerakan <strong>Bali Waste Not </strong>dimulai. Jangan dibuang sampahnya, berikan saja kepada kami.</p>
<p><strong>How to support. </strong>Dengan memberikan sampah buangan industri fashion tersebut kepada kami sudah merupakan satu cara mendukung project ini. Kumpulkan saja semua lalu kabari kami. E-mail ke aku@puturestiti.com alamat rumah, sekolah atau studio kalian tempat kain kain sisa itu berada, sertakan informasi kapan kain kain tersebut bisa kami ambil <img src='http://www.puturestiti.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>What we going to do with that waste?. </strong>Putu bersama beberapa sahabat difable lainnya akan menyulap sisa sisa buangan industri fashion tersebut menjadi benda baru yang lebih bernilai.  Setelahnya, semua benda benda yang dihasilkan dari proses daur ulang tersebut akan Putu display di website ini dan facebook page Putu.</p>
<p>Bagian menarik dari project ini adalah kalian bisa ikut berpatisipasi dalam program <strong>CLAIM YOUR WASTE</strong>. Seluruh hasil keuntungan dari project ini akan digunakan untuk mengembangkan potensi teman teman difabel di Bali dan menggagas kegiatan kegiatan kreatif  kami berikutnya.</p>
<p>Ayo, kita kurangi sampah sekaligus mendukung teman teman difable diBali menjadi kreatif produktif! Putu tunggu masukan teman teman ya? <img src='http://www.puturestiti.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puturestiti.com/bali-you-throw-we-pick/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wonderground &#8211; Wonderful Ground Exhibition</title>
		<link>http://www.puturestiti.com/wonderground-wonderful-ground-exhibition/</link>
		<comments>http://www.puturestiti.com/wonderground-wonderful-ground-exhibition/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 14:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Restiti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pure Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puturestiti.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat, Puput berkesempatan ikut serta dalam pameran menakjubkan ini nanti. Tanggal 4 &#8211; 10 Juni 2011 bertempat di Danes Art Veranda, Jl. Hayam Wuruk Denpasar. Hasil karya tangan Puput yang masih butuh banyak berbenah itu akan berada dalam sebuah pameran sejajar dengan desainer-desainer handal yang sudah tahunan malang melintang dalam dunia kreatif. Satu lagi kebanggaan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/05/Putu-Restiti-on-Nafka-Wonderground-Exhibition.jpg"><img class="size-full wp-image-97 aligncenter" title="Putu Restiti on Nafka Wonderground Exhibition" src="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/05/Putu-Restiti-on-Nafka-Wonderground-Exhibition.jpg" alt="" width="382" height="540" /></a></p>
<p>Sahabat,</p>
<p>Puput berkesempatan ikut serta dalam pameran menakjubkan ini nanti. Tanggal 4 &#8211; 10 Juni 2011 bertempat di Danes Art Veranda, Jl. Hayam Wuruk Denpasar. Hasil karya tangan Puput yang masih butuh banyak berbenah itu akan berada dalam sebuah pameran sejajar dengan desainer-desainer handal yang sudah tahunan malang melintang dalam dunia kreatif. Satu lagi kebanggaan baru buat Puput. Terimakasih untuk semua dukungan kalian yang tak akan pernah ternilai aksara itu. Om Dewa Suksema Parama Cintya Ya Namah Swaha&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puturestiti.com/wonderground-wonderful-ground-exhibition/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Menjahit Impian</title>
		<link>http://www.puturestiti.com/mari-menjahit-impian/</link>
		<comments>http://www.puturestiti.com/mari-menjahit-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:12:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Restiti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pure Event]]></category>
		<category><![CDATA[Pure Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puturestiti.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Puput yang baik, Setelah hampir lima bulan, akhirnya Puput sampai di Denpasar lagi malam lalu. Masih bingung dengan jalan. Tak tahu nama tempat dan desa desa disepanjang perjalanan dari Songan menuju Denpasar yang Puput lewati bersama Pak Wayan dan Kak Buntas. Mereka adalah sahabat sahabat dari YAKKUM Bali yang berbaik hati menjemput Puput. Sesampainya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/05/IMG04597-20110523-1540.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-88" title="Pelatihan wirausaha YAKKUM Bali" src="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/05/IMG04597-20110523-1540-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Sahabat Puput yang baik,</p>
<p>Setelah hampir lima bulan, akhirnya Puput sampai di Denpasar lagi malam lalu. Masih bingung dengan jalan. Tak tahu nama tempat dan desa desa disepanjang perjalanan dari Songan menuju Denpasar yang Puput lewati bersama Pak Wayan dan Kak Buntas. Mereka adalah sahabat sahabat dari YAKKUM Bali yang berbaik hati menjemput Puput. Sesampainya di Denpasar, Puput berkumpul bersama kakak-kakak peserta pelatihan wirausaha yang diselenggarakn YAKKUM. Semuanya perempuan difable dan berasal dari banyak tempat di Bali dan semuanya memiliki latar belakang yang sama dengan Puput, yaitu sahabat jarum. Ya kami semua adalah perempuan-perempuan yang menggemari dunia jahit menjahit.</p>
<p>Diperjalanan menuju PSBR Gunamantha dari YAKKUM, Puput dan teman-teman singgah di rumah Kak Efi di bilangan Graha Kerti, Sidakarya. Disana ternyata Puput dan teman-teman sudah ditunggu kakak-kakak di Blok Z, ada Kak Novan, Kak Rara, Kak Danar dan Kak Gustulang. Tak berapa lama Mas Anton, Adik Bani, Mba Luhde dan Kak Viar juga datang. Makan malamnya sederhana tapi penuh cerita dan gelak tawa. Benar-benar suasana yang begitu berbeda dari yang Puput rasakan disetiap hari di Songan.</p>
<p>Keesokan harinya Puput mengikuti serangkaian acara pembukaan pelatihan di PSBR Gunamantha. Puput sendiri mengisi sesi inspirasi mulai dari jam satu siang sampai jam empat sore. Ini merupakan presentasi pertama Puput didepan cukup banyak orang. Beruntung Puput ditemani Kak Sakti yang menurut salah satu peserta pelatihan mirip sekali dengan Sule, karena dengan begitu lucunya berhasil membuat peserta pelatihan terpingkal-pingkal. Untuk pertama kalinya juga Puput melihat website ini. Bagus sekali. Meskipun Puput sekarang belum tau cara menggunakannya tapi Puput yakin suatu hari kelak akan bisa.</p>
<p>Hidup itu seperti membuat sebuah baju. Untuk bisa menjadi sebuah baju yang layak dikenakan kita harus bisa membayangkan seperti apa bentuknya, kemudian membuat polanya, mengumpulkan bahan-bahan nya, dan mau untuk menjahitnya. Hidup itu tentang menjahit impian kata Kak Sakti. Jadi, mari kita jahit impian terbaik kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puturestiti.com/mari-menjahit-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Menjahit Luka</title>
		<link>http://www.puturestiti.com/mari-menjahit-luka/</link>
		<comments>http://www.puturestiti.com/mari-menjahit-luka/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 04:19:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Restiti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pure Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puturestiti.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Putu yang baik, Siapapun pasti pernah terluka karena banyak hal. Putu, Ibu Putu, sahabat sahabat Putu, siapapun pasti pernah terluka. Dan saat terluka pastilah sakit yang dirasakan. Ada satu hal yang bisa dilakukan saat sedang terluka, yang bisa membantu mengurangi rasa sakit yang tengah dirasakan. Yaitu berharap. Berharap diiringi tersenyum semoga luka itu cepat...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat Putu yang baik,</p>
<p>Siapapun pasti pernah terluka karena banyak hal. Putu, Ibu Putu, sahabat sahabat Putu, siapapun pasti pernah terluka. Dan saat terluka pastilah sakit yang dirasakan. Ada satu hal yang bisa dilakukan saat sedang terluka, yang bisa membantu mengurangi rasa sakit yang tengah dirasakan. Yaitu berharap. Berharap diiringi tersenyum semoga luka itu cepat pulih. Itu saja.</p>
<p>Jangan pernah memikirkan apa yang telah menyebabkan luka, kenapa luka bisa terjadi, pun jangan menyesali karena telah terluka. Memikirkan hal-hal tersebut tak akan membantu mengurangi rasa sakitnya. Justru sebaliknya, kita harus bersyukur karena luka itu. Karena dengan terluka kita sebenarnya tengah belajar mengenal rasa sakit, mengenal rasa sabar menahan rasa sakit. Dan disadari atau tidak, terluka bisa melatih kita menjadi lebih kuat. Jangan pernah takut terluka. Seperih apapun, luka pasti bisa dijahit dan pasti bisa disembuhkan.</p>
<p>Hari ini Putu sedang menyiapkan sebuah boneka kecil. Boneka Mei yang dijahit dengan kain sisa dijahit langsung dengan tangan Putu sendiri. Boneka Mei nanti akan dikirim kejakarta untuk bertemu dengan 999 boneka lainnya dari seluruh Indonesia pada tanggal 23 Mei 2011. 1000 boneka yang berkumpul hari itu merupakan simbol untuk mengenang luka yang disebabkan oleh tragedi Mei 1998. 13 yang silam.</p>
<p>Luka lama yang mungkin sudah sembuh, mungkin juga belum. Tapi jangan khawatir, Putu akan siapkan boneka Mei terbaik yang semoga bisa menjahit semua luka hati. Mari, nikmati luka. Mari Menjahit luka bersama Boneka Mei.</p>
<p>Salam hangat,<br />
Putu</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/05/poster-boneka-mei2-546x1024.jpg"><img class="size-full wp-image-51 aligncenter" title="Mari Menjahit Luka, 13 Tahun mengenang Tragedi Mei 1998" src="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/05/poster-boneka-mei2-546x1024.jpg" alt="" width="546" height="1024" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puturestiti.com/mari-menjahit-luka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menembus batas impian melalui tekhnologi</title>
		<link>http://www.puturestiti.com/menembus-batas-impian-melalui-tekhnologi/</link>
		<comments>http://www.puturestiti.com/menembus-batas-impian-melalui-tekhnologi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 10:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Restiti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pure Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puturestiti.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Putu yang baik, Hari ini Putu beroleh kabar jika Kak Dian Aryanti menulis sebuah cerita tentang Putu disalah satu ruang digital sana. Dalam tulisannya Putu berada dalam satu  alur dengan RA Kartini. Ini sekilas isi tulisan tersebut.. *** &#8230;&#8230;Restiti tidak pernah mengeyam bangku sekolah karena ketidakmampuan ekonomi. Tetapi Tuhan memang Maha Adil karena Restiti...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat Putu yang baik,</p>
<p>Hari ini Putu beroleh kabar jika Kak Dian Aryanti menulis sebuah cerita tentang Putu disalah satu ruang digital sana. Dalam tulisannya Putu berada dalam satu  alur dengan RA Kartini. Ini sekilas isi tulisan tersebut..</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>&#8230;&#8230;Restiti tidak pernah mengeyam bangku sekolah karena ketidakmampuan ekonomi. Tetapi Tuhan memang Maha Adil karena Restiti memiliki kemampuan menjahit yang dipelajarinya dari sang ibu. Dengan kemampuannya menjahit, Restiti mengisi waktunya membuat kebaya dari bahan sisa. Kebaya jahitan Restiti bukanlah kebaya biasa, melainkan kebaya Bali untuk boneka Barbie. Cerita tentang Restiti kemudian disebarluaskan Sakti melalui internet dan jaringan pertemanan dunia maya. Baju kebaya buatan Restiti dimuat dalam satu situs yang dibuat khusus oleh Sakti dan bisa diakses melalui www.restiti.com, juga blog pribadi, twitterdan facebook pribadi miliknya. Hasilnya, kebaya mini Restiti dikenal luas dan kini dikenal dengan Restiti’s Balinese Kebaya. Kondisi ekonomi keluarga Restiti terbantu dan yang lebih utama adalah Restiti mulai percaya diri dengan kemampuan dirinya dan berani bermimpi lebih tinggi. Mimpi Restiti sangat sederhana, ia hanya ingin hidup lebih layak, dan teknologi memfasilitasi mimpinya. <a href="http://asankalocita.wordpress.com/2011/04/18/menembus-batas-impian-melalui-teknologi/">read more</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puturestiti.com/menembus-batas-impian-melalui-tekhnologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meriahnya Kreativitas Anak Muda Bali</title>
		<link>http://www.puturestiti.com/meriahnya-kreativitas-anak-muda-bali/</link>
		<comments>http://www.puturestiti.com/meriahnya-kreativitas-anak-muda-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Dec 2010 18:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Restiti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pure Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puturestiti.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Kalian pikir Bali cuma punya pelukis, penari, perajin, dan semacamnya. Ah, jadul amat. Bali punya bejibun anak-anak muda kreatif. Oh ya, tak hanya kreatif tapi juga gila dengan ide-ide baru. Itu setidaknya tergambar pada Pecha Kucha Night (PKN) di Bali Creative Festival (BCF) Sabtu malam lalu. Ada delapan presenter di PKN malam itu. Satu per satu...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><img class="alignnone size-full wp-image-15" title="PKN-BCF" src="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/05/PKN-BCF1.jpg" alt="" width="517" height="345" /></div>
<div></div>
<div>Kalian pikir Bali cuma punya pelukis, penari, perajin, dan semacamnya. Ah, jadul amat. Bali punya bejibun anak-anak muda kreatif. Oh ya, tak hanya kreatif tapi juga gila dengan ide-ide baru. Itu setidaknya tergambar pada Pecha Kucha Night (PKN) di Bali Creative Festival (BCF) Sabtu malam lalu.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Ada delapan presenter di PKN malam itu. Satu per satu mereka berbagi ide, pengalaman, dan kepedulian. Ada beberapa yang nglantur tak terlalu jelas. Tapi, hampir semuanya kerena. Ini di antaranya. Gung WS, si penampil pertama, berbagi ide soal Kayuh Malam Minggu. Dengan segala ampun untuk presenter lain, menurutku, Gung WS lah presenter terbaik malam itu. Idenya sederhana tapi menarik banget. Keliling kota pas malam Minggu naik sepeda bersama kawan-kawan sebaya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Ide mengayuh sepeda pada malam Minggu ini sudah dilakukan WS bersama gengnya, anak-anak Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Mereka pakai sepeda jenis apa saja. Tak harus sepeda sendiri, bisa juga pinjam atau nyewa punya orang lain.</div>
<div id="_mcePaste">Gung WS, anggota Bali Blogger Community (BBC) juga pekerja di Sloka Institute itu (ehm!) mempresentasikan idenya dalam tampilan asik. Foto-foto hidup dan presentasi yang santai membuatnya menarik.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Ide Gung WS &amp; the gank itu harusnya didukung. Sayangnya mereka justru harus menghadapi kejamnya pengguna jalan di Denpasar. Untunglah mereka bisa curhat di PKN. Presentasi keren lainnya juga datang dari Sakti Soediro soal Barbie from Bali. Sakti, si centil anak BBC ini awalnya berencana akan presentasi bareng Putu Restiti, perempuan berusia 19 tahun dari Desa Songan, Kintamani, Bangli si pembuat Barbie berbaju Bali. Oya, sebenarnya yang keren adalah Restiti. Meski cacat fisik tak bisa berjalan sehingga harus pakai kursi roda, Restiti bisa membuat karya jenius dari Bali: Barbie berkebaya Bali. Restiti tak pernah sekolah. Dia tinggal di desa tepi Danau Batur itu. Tapi, dia melampau kondisi fisik yang bagi banyak orang dianggap sebagai hambatan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Restiti membuat sendiri idola global itu dengan sentuhan lokal. Bagi Sakti, arsitek muda yang juga jago desain itu, karya Restiti keren karena sangat detail. Dia memperlihatkan foto-foto Restiti dengan karyanya. Dan, memang keren.</div>
<div id="_mcePaste">Cerita tentang Restiti, menurutku, sangat menggugah. Bagaimana seorang perempuan muda dari desa dengan “keterbatasan” fisiknya justru melahirkan karya Barbie from Bali, sesuatu yang bisa memadukan ikon globa dalam kemasan lokal. Restiti salah satu inspirasi di PKN kali ini.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Cerita menggugah lain datang dari Pande Putu Setiawan, pendiri dan pengelola Komunitas Anak Alam di kaki Gunung Batur. Pande, alumni Magister Manajemen Universitas Gajah Mada (UGM), itu memilih kembali ke Desa Songan dan mengabdi untuk anak-anak di desa yang tak mengenyam pendidikan tersebut. Dari desa di sekeliling Batur itu, Pande mengajak puluhan, atau bahkan ratusan relawan lain, untuk membantu 3000 anak putus sekolah di sana. Mereka memberikan buku, nutrisi, dan pendidikan pada anak-anak tersebut.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Pande menggugah karena gugatannya pada gemerlap pariwisata Bali yang melupakan anak-anak miskin yang tak sekolah seperti di sekitar Batur, salah satu pesona pulau ini. Berbagi pengalaman mengajar anak-anak putus sekolah ini juga disampaikan dua presenter di PKN kali ini: Intan Paramitha dan Astharini Ditha. Secara bergantian mereka berbagi ide dan pengalaman mengelola Kelas Beranda, sekolah alternatif untuk anak-anak pedagang buah. Bersama tiga teman sebaya, mereka menggagas Kelas Beranda di Desa Kapal dan Banjar Perangalas, Mengwi, Kabupaten Badung. Ini sekolah untuk anak-anak pedagang buah yang putus sekolah karena ekonomi dan jarak sekolah yang terlalu jauh.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Berbagi ide dan pengalaman dalam kreativitas itu makin lengkap dengan perspektif berbeda dari Gus Tulank tentang Keterbukaan Informasi Publik. Gus Tulank cukup menggoda dengan presentasi berjudul Kalau Bisa Dibuka, Ngapain Ditutup? Nah, kalau mau tahu lebih banyak tentang apa saja yang bisa dibuka, silakan buka website Sloka saja.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puturestiti.com/meriahnya-kreativitas-anak-muda-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beranda Hati Restiti</title>
		<link>http://www.puturestiti.com/beranda-hati-restiti/</link>
		<comments>http://www.puturestiti.com/beranda-hati-restiti/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2010 18:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Restiti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pure Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puturestiti.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Dear heart, Nama anak perempuan itu Putu Restiti. Usianya 19 tahun. Rambutnya panjang tergerai melewati bahu dan selalu dibingkai sebuah bando. Sahabat terbaiknya sampai hari ini adalah Sang Bunda, lalu adik dan kursi rodanya. Restiti memiliki kelainan pertumbuhan tulang sejak lahir. Entah apa namanya dalam dunia kedokteran, yang jelas tulang belakangnya pendek dan melengkung, membuat...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><img class="alignnone size-full wp-image-18" title="sample" src="http://www.puturestiti.com/wp-content/uploads/2011/05/sample.jpg" alt="" width="517" height="240" /></div>
<div>Dear heart,</div>
<div id="_mcePaste">Nama anak perempuan itu Putu Restiti. Usianya 19 tahun. Rambutnya panjang tergerai melewati bahu dan selalu dibingkai sebuah bando. Sahabat terbaiknya sampai hari ini adalah Sang Bunda, lalu adik dan kursi rodanya. Restiti memiliki kelainan pertumbuhan tulang sejak lahir. Entah apa namanya dalam dunia kedokteran, yang jelas tulang belakangnya pendek dan melengkung, membuat ukuran tubuh Restiti jauh lebih kecil dari ukuran anak-anak normal seumurannya. Begitu pula dengan tungkai kaki dan tangannya. Panjang masing masingnya tak ada yang sama, pun bentuk tulangnya yang jauh lebih kecil dari ukuran normal. Kondisi ini otomastis membuat Restiti sudah harus melekat dengan kursi rodanya sejak kecil. Keadaan fisik dan kondisi lingkungan tempat Restiti tumbuh menjadi sebuah pemandangan yang menguras hati ketika saya, Mas Jeff (Jeff Kristianto &#8211; Bedo), Mas Didi dan beberapa rekan lain mengunjunginya dikediaman mereka yang sederhana di bilangan Songan, sebuah desa dipinggiran Danau Batur. Ya, fisik dan keseharian Restiti memang jauh dari normal dan begitu sarat keterbatasan, tapi itu yang hari ini menjadikannya The Special.</div>
<div id="_mcePaste">Restiti yang tak pernah mencicipi indahnya masa sekolah terlahir dengan bakat seorang craft girl sekaligus fashion desainer. Dari atas kursi rodanya, dikelilingi banyak keterbatasan, Putu Restiti berhasil menciptakan puluhan Barbie Dress kualitas prima yang modis dan begitu up todate dari tangannya sendiri!. And more over, Restiti menciptakan mode Barbie Dress yang belum pernah ada sebelumnya, Balinese Kebaya for a Barbie!</div>
<div id="_mcePaste">Puluhan pieces telah berhasil terjual diajang Pasar Amal Natal 2010 yang diselenggarakan BIWA di Central Parkir Kuta pertengahan November silam, saya sendiri ikut membantu menjualnya langsung. Hari ini Restiti ada dikecepatan terbaiknya menghasilkan lebih banyak karya yang cantik, sementara saya bersama beberapa sahabat sedang asyik mempersiapkan desain kemasan dan melakukan serangkaian aksi pengembangan bisnis untuk memasarkan hasil karya Restiti.</div>
<div id="_mcePaste">Pertemuan saya dengan Restiti dua bulan yang silam itu, mengingatkan saya pada quotes cantik Marguerite De Valois, Sang Ratu Perancis abad ke 16,</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">“Love works in miracles every day: such as weakening the strong, and strengthening the weak; making fools of the wise, and wise men of fools; favouring the passions, destroying reason, and in a word, turning everything topsy-turvy.”</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">I am awake by the time I met Restiti. Buat saya Restiti adalah bukti, jika cinta dan semua keajaiban didalamnya itu tak pernah tidur. Ia bekerja setiap hari. Meretas segala alasan, mengurai benang kusut kehidupan, mempertemukan orang-orang jauh yang memang sudah ditakdirkan untuk bertemu dan merubah keadaan sesulit apapun menjadi begitu penuh pengharapan semudah membalikkan telapak tangan.</div>
<div id="_mcePaste">Malam-malam terakhir ini, sedang asyik mengerjakan halaman Beranda Hati Restiti. Jika semuanya lancar, saya akan membantu Restiti presentasi di Pecha Kucha Night # 7 “Young Blood”, Sabtu 4 Desember 2010, Pukul 19.00 &#8211; 20.00 di Art Centre Denpasar, yang merupakan bagian gelaran Bali Creative Festival. Lets wish for Restiti a very good luck, warm and full of loving days ahead! <img src='http://www.puturestiti.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puturestiti.com/beranda-hati-restiti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

